Terlambat ( cerita pendek )

“Cinta tak pernah salah tapi sayangnya ia bisa datang terlambat”

Aku mencermati kata demi kata yang baru saja tak sengaja tertangkap oleh kedua mataku. Tanpa pikir panjang tangan kananku meraih sebuah buku dan tangan kiriku menarik sebuah kursi yang masih rapi tersembunyi dibawah kolong meja. Aku duduk setelah sebelumnya menaruh tas ke atas meja.

Kupandangi setiap detail buku bersampul warna kedap hitam itu. ada yang aneh dengan sampulnya, setengah heran karena sampul itu hanya bertuliskan “Terlambat” di halaman depan. Dan dihalaman belakang yang biasanya berisi synopsis dari keseluruhan buku pun hanya berisi tulisan “Cinta tak pernah salah tapi sayangnya ia bisa datang terlambat” tertulis di halaman atas dan beberapa kata tertulis dibawah kiri “untuk seseorang itu.. kamu”

Aku menelan ludah beberapa kali, merasakan keanehan juga rasa penasaran yang begitu besar. Kubuka lembar demi lembar hingga menemukan sebuah puisi tulisan tangan tersusun rapi nan manis. Menandakan sang empunya cerita tengah merasakan kebahagiaan yang sangat dalam.

            Untukmu.. puisi ini

        Puisi pertamaku tentangmu

        Pertemuan singkat pagi ini

        Mengubahku juga hidupku

        Merubah gelap menjadi terang

        Merubah mimpi menjadi nyata

        Jika Tuhan merpertemukan kembali

        Akan kuceritakan padamu

        Tentangmu tentangku

Kau pasti terheran

Jadi siapkan dirimu!

Aku tersenyum membaca lembar demi lembar yang tertulis secara manis menjadi satu kesatuan utuh yang sangat indah. Meski terkadang kesal dengan kisah cinta diam-diam yang tak pernah diperlihatkan oleh si penulis. Juga sedih ketika sosok yang sangat penulis cintai itu justru jadian dengan sahabat dekatnya ketika SMA. Benar-benar perjuangan cinta yang sangat besar namun tragis penuh dengan konflik dan drama.

Hingga terpikir sebuah tanya Apakah cerita seperti ini terjadi di dunia nyata? Pasti jawabannya sudah pasti tak pernah ada dalam kisah nyata. Cerita seperti itu sudah banyak dikarang oleh penulis penyuka drama atau semacamnya. Akan tetapi aku merasa jika buku ini punya nyawa tersendiri yang tak dimiliki pada buku lain. Entahlah seperti aku merasakan apa yang dirasakan tokoh “aku” didalam buku itu. Hingga sampailah pada lembaran akhir buku tebal itu yang juga tertuliskan tangan.

—-

Untukmu seseorang itu.. Natisya Greevenia Eka Putri

Jika kamu membaca buku ini, aku harap kamu tau jika sampai detik ini rasaku untukmu tak pernah berkurang sedikitpun. Masih sama seperti awal pertemuan kita di sebuah café itu. ketika senyummu tak sengaja tertangkap kedua mataku. sebuah senyuman yang sampai detik ini masih tersimpan dihati dan pikiranku.

Kau tau? Semenjak pertemuan itu aku mati-matian cari informasi tentang kamu. Dan setelah aku menemukan tempatmu kuliah aku langsung mendatanginya. Dan apa kamu tau apa yang aku lihat? Aku melihatmu baru saja jadian dengan Ardean Mahardika sahabatku dulu. Kamu tau apa? Sakit rasanya, bahkan lebih sakit dari patah hatiku sebelumnya padahal kamu bukan siapa-siapaku, ya aku hanya sekedar pengagummu.

Tapi ternyata aku salah, aku bahkan tak pernah sebentar saja menghilangkan bayangmu. Dan sejak saat itu aku sadar, jika aku bukan hanya sekedar mengagumimu, melainkan aku mencintaimu. Meski aku tak pernah memperlihatkan kepadamu namun kau selalu ada dalam setiap sujudku, dalam setiap rapalan doaku.

Aku mencintaimu dalam diamku. Aku mencintaimu meski bayangku tak pernah tampak olehmu. Aku mencintaimu meski ragamu tak pernah kusentuh. Aku mencintaimu dalam sakitku. Aku mencintaimu meski hadirku tak pernah kaurasakan. Karena aku mencintaimu. Bahkan sangat menggilaimu.

Bahagiamu adalah kebahagiaanku. Tetaplah tersenyum karena senyuman itu memberiku kekuatan. Aku akan selalu ada di sekitarmu. Untuk menjagamu meski dari sudut yang tak pernah kamu ketahui.

                                       Tertanda, seseorang itu.. aku.

—–

            Aku masih tertegun membaca halaman terakhir itu. bukan karena sangat menyentuh atau romantis atau semacamnya. Melainkan ada namaku dan juga Dean-pacarku tersirat ditulisan akhir itu. apa maksutnya? Begitu banyak pertanyaan namun aku tak tau bisa menemukan jawabannya darimana. Andai buku ini mempunyai mulut pasti sudah kuhujani dengan beribu pertanyaan saat ini juga.

“Deaaaaaan” panggilku berteriak melihat sosoknya yang tak sengaja kulihat berjalan memasuki perpus.

“ya, kenapa Nat?” tanyanya mengernyitkan dahi, sambil berjalan mendekatiku.

“kamu tau ini?”tanyaku sambil memperlihatkan buku bersampul hitam itu kepadanya.

“oh ini, ya, tentu” jawabnya datar

“siapa penulisnya? Kenapa ada disini? Kenapa nggak ada nama penulis dan penerbit? Dan kenapa ada nama kita?”tanyaku ingin tau

“pertanyaan retoris, tak perlu kujawab bukan? Kamu pasti tau siapa penulis buku itu”jawabnya masih datar seperti menahan sesuatu yang entah tak bisa kutebak apa.

“Karel?” Tanyaku agak pelan, dan mendapat anggukan dari Dean.

“tapi bagaimana mungkin? Bukankah dia…em”jawabku tak melanjutkan dan mengingat beberapa kejadian di masa lalu.

“seperti apa yang tertulis di buku itu. cinta tak pernah salah tapi sayangnya ia bisa datang terlambat. Cuma waktu Nat yang bisa jelasin cinta itu seperti apa, bukan kata yang dilebihkan bukan juga omong kosong yang tak ada buktinya. Oh ya masalah buku itu tanpa nama penulis dan penerbit karena buku itu memang belum terbit. Buku itu aku temuin di tong sampah rumahmu beberapa hari yang lalu. Aku perbaiki sedikit lalu aku taruh di perpus tadi pagi. Lalu aku sms kamu supaya kamu nunggu aku di perpus, karena aku tau kamu bakalan duduk di tempat ini makanya aku taruh buku itu didekat dekat sini” kata Dean menjelaskan.

“jadi semua ini udah kamu rencanain?”tanyaku

“tentu”jawabnya singkat

“kenapa?”tanyaku tak mengerti

“karena aku tau kalian punya rasa yang sama”jawabnya

“apa maksutmu? Aku sayang sama kamu”tanyaku masih tak mengerti

“aku juga sayang sama kamu Nat. maaf jika aku salah dua hari yang lalu aku nggak sengaja nemuin buku diarymu terbuka. Karena penasaran aku baca dan isinya tentang Karel. Kamu masih sayang kan sama dia? Sebaiknya kamu temui dia, pasti Karel lagi nungguin kamu saat ini”jawabnya

“Karel nunggu aku? Aku saja tak pernah bertemu dengannya sejak saat itu. jadi bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengannya?”tanyaku

“ bukankah buku itu udah jawab pertanyaanmu? Kamu sudah membaca sampai akhir bukan? Seharusnya kamu tau Karel nunggu kamu dimana. Jangan pernah biarkan orang yang mencintaimu terluka dan memilih pergi hanya karena kesalahan yang bahkan kamu buat sendiri. Kesalahan karena terlalu lama membuatnya harus menunggumu, misalnya. Kamu nggak ingin mengulang kesalahan kedua kali kan Nat?”tanyanya sambil memegang kedua bahuku semacam memberiku penegasan.

“kamu bagaimana?”tanyaku

“jangan pedulikan aku, aku ingin kamu bahagia bersama orang yang kamu sayang sekalipun aku harus terluka. Pergilah”katanya

Aku melangkahkan kakiku, meninggalkan sosok Dean yang selalu memberiku kekuatan. Entahlah mungkin jika tidak ada dia apa jadinya aku sekarang. Aku terlalu berhutang budi padanya.

Dengan ragu aku membuka pintu café dan berjalan memasukinya, melihat kesekitar dan mendapati sosok yang aku cari. Perlahan aku mendekat sembari mengamati sekitar yang telah banyak berubah. Dan aku sadar sudah sekitar setahun aku tak pernah datang lagi ke café ini.

“aku udah baca”kataku tanpa basa basi, membuat sosok itu terkejut melihat ke arahku.

“Nat? duduk dulu Nat. kok kamu bisa tau aku ada disini?”tanyanya dengan pandangan masih tak percaya, namun terlihat senyuman terukir dari wajah khas yang dulu sangat aku kagumi dan masih kuhafal setiap lekuknya. Masih sama tak banyak berubah hanya senyuman dan sapa ramah darinya yang dulu tak pernah kudapati. Andai kejadian ini aku dapat tiga tahun lalu pasti semuanya akan berbeda.

“aku tau dari buku ini. Buku ini milikmu bukan?”jawabku sambil menunjukkan buku bersampul hitam itu kepadanya.

“ya ini milikku, darimana kau dapatkan buku ini?”tanyanya

“Dean yang menemukan buku ini di tong sampah rumahku dua hari yang lalu, apa kau kerumahku dua hari yang lalu? Kenapa nggak masuk?”tanyaku penasaran

“oh iya aku ke rumahmu, tapi aku nggak punya keberanian buat ketemu kamu. Apa kamu baca buku ini?”tanyanya sambil menunjuk kearah buku itu.

“ya tentu aku membacanya. Penuh drama bukan? Dan aku nggak nyangka kalau semua yang tertulis dibuku hitam itu ditujuin ke aku. Jadi selama ini kamu ngawasin aku? Sejak kapan?”tanyaku

“sekitar setahun yang lalu, kamu juga baca halaman akhirnya?”tanyanya

“jika aku tak baca halaman akhir maka aku tak pernah tau jika buku ini kamu yang menulisnya. Bagaimana rasanya? Apakah sakit mencintai secara diam-diam?”tanyaku

“bukankah kamu sudah membaca buku ini dari awal berarti kamu sudah pasti tau bagaimana rasanya bukan?”jawabnya dan membalikkan pertanyaan kepadaku.

“tentu aku sangat mengerti. Bahkan aku juga tau bagaimana rasanya mencintai orang dengan tulus tapi diabaikan begitu saja.  Padahal ia telah menunjukkan  perasaannya, bahkan dengan perjuangan dan air mata namun tak pernah dihargai. Itu jauh lebih sakit daripada hanya mencintai orang secara diam-diam. Karena bagaimana orang yang kamu cintai tau ada yang mencintainya jika ia hanya mencintai tanpa memberitau dan menunjukkan? Cinta memang selalu datang terlambat bukan?” kataku masih mencoba menahan emosi agar tak sampai menunjukkan sisi lemahku dihadapannya.

“maksut kamu apa Nat? maaf aku nggak ngerti”tanyanya

Aku merogoh ponselku, menghidupkannya lalu mencari sesuatu didalamnya “kamu ingat ini?”tanyaku menunjukkan sebuah foto gadis lugu namun dekil.

“ya tentu aku ingat. Dia yang selalu menyapaku di depan pagar SMA ketika aku turun dari mobil. Memberiku makan siang tapi tak pernah kumakan dan langsung kubuang di tong sampah. Dan dia juga yang selalu mengucapkan ‘selamat tinggal hati hati dijalan’ ketika kelasku pulang”jawabnya

“entahlah apa yang ada dipikiran gadis lugu itu, karena meskipun ia telah disakiti berkali-kali setidaknya ia masih bisa menyapa orang yang menjadi tokoh antagonis  dengan senyuman khasnya. Gadis itu tidak bodoh ia hanya terlalu tulus mengorbankan harga dirinya hanya untuk orang yang ia sayangi”kataku

“kenapa kamu begitu tau tentang gadis itu, aku saja tak pernah melihatnya setahun belakangan ini. Bagaimana kabarnya ya?”tanyanya

“jangan berpura-pura peduli, lebih baik jujur apadanya meski menyakitkan. Sebenarnya gadis itu tak pernah benar-benar hilang dari kehidupanmu karena gadis itu sekarang  ada di depanmu”kataku, aku melihat perubahan drastis pada raut muka Karel.

“apa katamu? Bagaimana bisa?”tanyanya masih tak percaya.

“Dean yang merubah itik buruk rupa menjadi angsa yang indah. Dia yang merubahku, kata Dean merubah penampilan luar seseorang menjadi cantik itu hanya hal kecil karena  kecantikan seseorang itu terpancar dari hati bukan dari luarnya. Tapi kata Dean jarang sekali orang menilai pakai hati pasti yang pertama dilihat penampilan luarnya. Sejak saat itu aku berubah penampilan”kataku menjelaskan

“aku sayang kamu Nat”katanya

“aku udah tau dari buku itu. aku juga sayang kamu, sayaaaaaang banget. Tapi sepertinya itu berlaku tiga tahun yang lalu.”jawabku

“tapi Nat.. bukankah sekarang justru kita saling menyayangi?”tanyanya

“terkadang Tuhan menciptakan karma untuk memutarbalikkan kehidupan agar orang  tau bagaimana sakitnya jika ia berada diposisi orang yang tersakiti. Maaf Rel mungkin jika kamu bilang sayang tiga tahun yang lalu pasti akan berbeda keadaannya dengan saat ini.”jawabku

“apa karena kamu udah punya Dean?”tanyanya sambil menunjuk seseorang yang berdiri dibelakangku.

“seharusnya ada tidaknya kamu di kehidupanku saat ini tak pernah merubah apapun. Karena kamu hadir dari masa lalu yang masih tertinggal dan mengering karena tak pernah terjamah lagi. Dan Dean? Hadir sebagai air penyegar untuk mengobati lukaku yang telah kering itu karena dialah masa depanku.”jawabku

“tapi Nat..”kata Karel

“maaf Rel, tapi ini keputusanku. Aku ingin kamu mengerti, cinta nggak bisa dipaksa sekalipun ia datang terlambat. Kamu pasti dapet yang terbaik kok nanti mungkin aku bukan orang yang tepat buat kamu. Ayo Dean kita pergi, semestinya aku tak pernah datang kemari, ini bukan duniaku.”kataku sambil menarik dan menggandeng Dean.

“kamu yakin?”Tanya Dean

“yakin doooong”kataku. Sambil melangkahkahkan kaki menjauh dari tempat Karel

Aku percaya Tuhan tak pernah salah. Ketika kita mencintai dua orang pada waktu yang sama seharusnya kita lebih memilih untuk mencintai yang kedua karena kita tak akan pernah mendapatkan yang kedua jika cinta kita masih untuk yang pertama.

End^^

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s